LIFE IS ABOUT TIME & JOURNEY
Waktu yang terus berjalan kemudian menciptakan kegiatan, lalu lahirlah kejadian sehingga akhirnya terbentuklah sebuah kesan. Semua insan diberikan kebebasan untuk menciptakan kesan, dan itulah salah satu bentuk keadilan Tuhan. Kesan baik dan buruk ialah bagian dari hasil perjalanan yang terus berulang.
Duh Nenek Kajii,, bagaimana tidak kecewa?, sedangkan harapan itu muncul dari ciptaanMu berupa pikiran dan angan. Jadi wajar saja beragam kalimat pun dilontarkan, salah satunya _"Ya sudahlah saya jalani hidup ini sesuai peran yang diberikan tanpa harapan dan hidup pada kenyataan."_
Keluhan dan kesenangan telah diekspresikan banyak orang, namun kebijaksanaan dalam memimpin diri sendirilah yang menentukan ketenangan dan kenyamanan.
Karena setiap orang diciptakan dengan perbedaan pandangan dan pikiran, jadi tidak perlu heran justru perbedaan itulah ranah keseruan.
Sungguh terasa tidak seru kalau dalam perjalanan tidak ada tantangan demi harapan, hanya saja keseruan itu tergantung orang yang menyikapi dengan arif dan bijak dari beragam perjalanan tanpa putus harapan.
Adanya pergerakan karena disebabkan adanya harapan, namun didalam harapan tidak perlu ada kekhawatiran supaya tidak ada kekecewaan di masa mendatang. Jadi berharap boleh, khawatir jangan.
Seperti kata-kata mutiara yang saya kutip dari teman saya, dia mengatakan "Tiada yang tau jauhnya suatu perjalanan, kita hanya diminta untuk berjalan bukan berlari ataupun diam. Jadi teruslah berjalan karena hidup adalah suatu perjalanan untuk mengambil pelajaran."
Sepakat juga dengan ungkapan yang mengatakan "Experience is the best teacher" Pengalaman adalah guru terbaik. Yang bermakna pengalaman itu sendiri yang mengajari kita entah pengalaman yang baik maupun kurang baik, entah pengalaman yang dialami diri sendiri ataupun orang lain, tetap saja dapat memetik suatu pelajaran sehingga pengalaman itu dipredikatkan menjadi guru.
Apalagi mengutip dari kisah lawas Sasak yang penuh makna, ketika si Masmirah masih kecil diceritakan tentang lika-liku perjalanan kehidupan oleh sang Ayah.
Pada suatu ketika sang Ayah berkata "Lelakon sine pasti meq dait wahai anakku Masmirah"
Yang bermakna perjalanan hidup ini pasti akan kamu alami, pasti akan kamu temui wahai anakku Masmirah, akan ada waktunya kamu bahagia dan susah, gembira dan sedih, ceria dan suntuk, kamu akan mengetahui mana benar dan salah, kejujuran dan kebohongan, keadilan dan kezaliman, lingkungan supportif dan tidak.
Kalau kamu besar nanti, kamu tidak perlu heran dengan hal-hal seperti itu, hanya cukup disikapi dengan wajar-wajar saja karena kita hidup di dunia, bukan di surga.
Sependek pengamatan terhadap variatifnya jalan kehidupan banyak orang, hasilnya akan tergantung dalam benak dan hatinya, sehingga itu yang akan menuntun jalan kehidupan setiap orang.
Dalam kehidupan, pergaulan sangat menentukan arah jalan kehidupan, dengan kata lain lingkungan sosial sangat berpengaruh terhadap orientasi kehidupan. Makanya ada ungkapan yang mengatakan "Teman adalah nasib" Jadi kalau ingin mengetahui nasib kehidupan seseorang, maka lihatlah dengan siapa ia sering bergaul atau berteman.
Berpindah pada rentetan fase dalam kehidupan pada umumnya, semuanya ada masa menurut usia walaupun sifatnya subjektif.
Lumrahnya setelah usia bayi maka disebut masa anak-anak yang memiliki ruang lingkup mindset cuma dunia main saja, dalam menuntut ilmu pun seperti sekolah ataupun mengaji, rata-rata orientasinya ingin bermain sama teman saja. Setelah itu disebut masa remaja yang penuh dengan permainan ranah cinta-cintaan, masa itupun sangat berkesan seru dengan pergaulan remaja apalagi sedang beranjak pendidikan SMP-SMA. Setelah lulus SMA, tibalah masa yang kemudian disebut Quarter Life Crisis yang dicetuskan oleh Alexandra Robbins dan Abby Wilner.
Quarter Life Crisis merupakan istilah psikologi dimana masa ini rentan menyerang keadaan emosional yang umumnya dialami orang-orang pada usia 18+ sampai usia 25an kurang lebih.
Fase Quarter Life Crisis ini memang merujuk pada keadaan emosional manusia berupa kekhawatiran, keraguan terhadap kemampuan diri, suka membandingkan diri dengan orang lain, bingung menentukan arah hidup. dalam kondisi ini manusia mempertanyakan eksistensi diri, mempertanyakan akan jadi apa dan bagaimana nasibnya ke depan, akan sama siapa dirinya satu atap, bahkan persoalan yang paling fundamental tentang keyakinan pun ditanya. Banyak hal yang memicu daya pikirnya sehingga persoalan-persoalan itu melahirkan kebingungan nan kedilemaan.
Setelah melewati masa Quarter Life Crisis, pada umumnya akan fokus bekerja dulu baru kemudian menikah ataupun begitu sebaliknya, sehingga kemudian beda dan panjang lagi cerita perjalanan kehidupan sampai menua. Begitulah dinamika dari rentetan fase kehidupan manusia sehingga pada akhirnya sampailah pada yang disebut "the end of the day" atau akhir daripada kehidupan dunia.
Dari pengalaman saya memetik kesimpulan bahwa semuanya tentang Waktu & Perjalanan.



Waaaa kerennn skliii🤩
BalasHapusLaidemmmm mantaf
BalasHapusuwuuuu kerennn😍
BalasHapusSolhn wah btur crten, mnteeeeep WAh👌
BalasHapusWiiiiiiiiih mantap,👏👏👏
BalasHapus