Manusia dan Kebahagiaan
Ditulis Oleh:
Individu atau manusia itu sendiri pada hakekatnya merupakan makhluk yang telah diberikan karunia berupa akal dan nafsu oleh Tuhan agar ia mampu berpikir, hidup untuk bangun secara terarah, dan mampu melawan nafsu dominan menjerumuskan manusia kejalan yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Manusia dikatakan sebagai makhluk yang bergama (Homo Religious), serta makhluk berpikir ilmiah (Homo Sapiens) yang tidak akan pernah luput dari esensinya sebagai salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Khalayaknya seperti yang dikatakan Ibnu Arabi dalam filosofis manusia, “tidak ada makhluk ciptaan Tuhan yang lebih indah, sempurna, konkret, dan mampu berpikir terkecuali manusia. Hal tersebut yang membuat pembeda antara esensi manusia dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya.
Manusia diciptakan oleh Tuhan dari intisari tanah yang diemanasikan dalam Al-Qur’an surat Al-Sajadah ayat 7-9, Allah SWT berfiman: “Yang membuat segala sesutau yang Dia ciptakan dan memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani), kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan roh (ciptaan)nya ke dalam (tubuh)-nya dan Dia menjadikan pendengaran, pengelihatan, dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur”.
Sedangkan analitika dari epistemologi “Sejarah Dunia Yang Disembunyikan” sebelum adanya penciptaan, Tuhan mencerminkan dirinya dalam sebuah cermin, yang dimana dalam cermin tersebut Dia melihat dirinya yang apa adanya. Kemudian Dia melihat masa depan yang penuh dengan makhluk yang mirip dengan-Nya. Dia melihat makhluk tersebut bisa hidup bebas, memiliki cinta, mampu berpikir cerdas, dan mampu menciptakaan kebahagiaan antar sesama makhluk lainnya.
Hal tersebut membuat manusia dinotabankan sebagai homo social yang dimana manusia sangat membutuhkan individu lain untuk berinteriksi, berbagi empiris, sebagai media saling bertukar pikiran antara individu dengan individu lainnya, menikah untuk menjalin satohat antar lawan jenis laki-laki dan perempuan. Sebagaimana diemanasikan dalam Al-Qur’an pada (QS. Az Zariyat: ayat 49), Allah SWT berfirman: “Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah)”. Dari ayat tersebut menjelaskan bahwa algoritma manusia ketika dilahirkan di dunia, manusia tidak mampu untuk hidup individualis saja dalam tataran merangui luasnya dunia yang realitanya selalu disuguhi oleh berbagai macam deviasi, kontradiktif, atau paham-paham yang menimbulkan disintegrasi antar sesama makhluk lainnya. Oleh karnanya manusia membutuhkan individu lain untuk membantunya mencapai sebuah aktualisasi dalam diri serta menemukan kebahagiaan sejati.
Seperti yang dijelaskan dalam Risalah Cinta dan Kebahagiaan itu sendiri merupakan suatu tindakan yang mampu menebarkan rasa tenang, damai, cinta, dan ketentraman dalam hidup pribadi dan sosial. Manusia tentu memiliki keanekaragaman dan begitu banyak kebahagiaan yang ingin diwujudkannya. Namun terlepas dari rasa bahagia itu, secara tidak sadar manusia hanya mencari dua kebahagiaan dalam hidupnya yaitu kebahagiaan batin dan kebahagiaan fisik. Kebahagiaan batin dimana ketika seorang manusia atau hamba mampu mengoneksikan ruh dan intuisinya kepada Tuhan Sang Pencipta dengan mendirikan berbagai macam ibadah yang telah di ajarkan oleh para Rasul. Kebahagiaan batin biasanya sulit untuk dilakukan terlebih lagi di era modern seperti saat ini, karna manusia sudah terlanjur dihipnotis oleh berbabagi macam materi yang membutan hati manusia.
Sedangkan kebahagiaan fisik ialah kebahagiaan dari hasil kebahagiaan batin manusia. Analoginya ketika hendak ingin membersihkan sebuah rumah, maka bersihkanlah dulu rumah tersebut dari dalam, agar apa yang ada di luar rumah akan tetap terlihat bersih juga. Analogi tersebut menginterperetasikan bahwasanya manusia yang memiliki batin yang bersih niscaya ia akan mendapatkan kebahagiaan fisik yang sejati. Kendati kebahagiaan sejati hanya bisa diproleh ketika ruh-hati-fisik manusia berjalan dengan selaras. Ketika kabahagiaan fisik tidak diselaraskan dengan ruh dan hati, maka kebahagiaan fisik akan selalu terjerumus kedalam kebahagiaan duniawi. Kemudian ruh dan hati akan terbelenggu didalam jasad yang penuh dengan kemaslahatan.
Kemaslahatan tersebut yang membuat manusia dengan makhluk lainnya tidak ada bedanya. Sebut saja makhluk itu ialah (Binatang), yang secara harfiah tidak memiliki akal, selalu membahagiakan kebutuhan fisik, dan mengikuti kawanan kemanapun ia pergi atau tidak memiliki prinsip hidup sendiri.



Good job ibnulll
BalasHapus